Minggu , November 27 2022

Refleksi Tingkat Keberhasilan Merdeka Belajar di Masa Pandemi*

Melalui kebijakan yang telah diatur oleh pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan tekhnologi Pendidikan Tinggi (Kemendikbu-Ristekdikti) yang memberlakukan kebijakan merdeka belajar direspon positif oleh segenap pelaku kebijakan pendidikan. Baik, sekolah, guru dan murid.

Hal ini menandakan bahwa adanya keinginan dari semua pihak yang berkecimpung dalam dunia pendidikan cukup tinggi. Dalam upaya memberikan kebebasan yang tinggi kepada segenap pengelola pendidikan untuk bisa membuat kebijakan baru ke arah yang lebih baik.

Adanya keinginan yang kuat itulah menjadi bukti bahwa semasa Nadiem Makariem menjabat sebagai Kemendikbud-Ristekdikti telah membawa angin segar bagi terciptanya suatu perubahan yang berkelanjutan di masa depan. Apalagi sejak kebijakannya dalam menghapus Ujian Nasional (UN) dirinya semakin populer, terlepas dari pro-kontra yang mengikutinya.

Meski demikian, ada fakta menyedihkan di masyarakat ketika penyetaraan kesejahteraan bagi pendidik (guru), dan kaum yang di didik (murid) mendapatkan perlakuan yang  kurang merata dalam hal kesejahteraannya.

Murid juga tak kalah menyedihkan ketika diharuskan untuk bisa melengkapi segala kebutuhan perlengkapan sekolah sedangkan pendapat perekonomian keluarganya tidak bisa diandalkan. Jika tidak segera diselesaikan maka dikhawatirkan gelombang protes ke sekolah menjadi menu andalan sehari-hari.

Dua masalah inilah hendaknya dijadikan sebagai upaya introspeksi diri atas pencapaian yang telah dilakukan. Jangan ada anggapan bahwa sekolah dengan pemberlakuan merdeka belajar, nantinya dapat memberikan dampak yang positif bagi kemajuan pendidikan, malah yang terjadi sebaliknya, dapat menjadi  jalan berliku yang memberi ketidakpastian dalam pengembangan semua pelaku pendidikan.

Semoga ini menjadi catatan bagi kita semua, dalam upaya menerapkan merdeka belajar. Merdeka bukan hanya sebatas bebas dari belenggu penjajahan, seperti zaman dulu, akan tetapi merdeka dalam arti bebas dari jerat beban hidup yang kian hari selalu membuat tak menentu masa depan para pelaku pendidikan.

*Penulis : Khazin, (Sekretaris LTN NU Kota Denpasar dan WK 1 PW IPNU Bali)

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *