Minggu , November 27 2022

Refleksi 76 Tahun Hari Kemerdekaan Indonesia “Transformasi Menuju Kemandirian Bangsa yang Berintegritas Tinggi”

Perayaan hari kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2021 telah menunjukkan sebuah euforia akan kemerdekaan Indonesia yang sudah berumur 76 tahun.
Sebuah usia yang tidak muda lagi dalam upaya membangun identitas baru sebagai langkah menuju kemandirian bangsa yang berintergritas tinggi.


Perjalanan sejarah yang ditorehkan para pejuang bangsa dalam mengusir kaum
kolinialiasme selama 350 tahun menjadi catatan tersendiri bahwa untuk mendapatkan
kemerdekaan harus dibayar dengan perjuangan yang berapi-api, cucuran darah bahkan nyawa sekalipun.

Bentuk invasi yang dilakukan agresi militer Belanda yang dilanjutkan dengan Jepang setidaknya harus direfleksikan sebagai barometer dalam membangun semangat hidup yang lebih maju di tengah krisis kemanusiaan yang saat ini sedang membelenggu seluruh lapisan masyarakat.


Semangat perjuangan yang telah diajarkan oleh para pejuang kemerdekaan
seharusnya tetap hidup sampai sekarang. Konteks perjuangan yang dilakukan bukanlah dalam mengusir penjajah seperti era dulu, melainkan dedikasi yang tinggi dalam membangun kepercayaan akan kemampuan diri, semangat nasionalisme, dan patriotisme menuju kemandirian bangsa.


Dalam konteks abad 21 ini kita tidak lagi memanggul senjata bambu runcing dalam
mengusir kaum imperialisme, tak ada lagi yang namanya kerja rodi yang menjadikan
perbudakan meraja rela di mana-mana. Perjuangan melawan bangsa penjajah sudah berakhir, dan kini kita dihadapkan pada sebuah realita akan bangsa kita sendiri.

Sejalan dengan ungkapan Bung Karno, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
Ungkapan Bapak proklamator bangsa ini sangat relevan sekali jika dikontekstualisasikan dengan zaman saat ini. Di mana pergolakan masalah dari lapisan atas
sampai akar rumput sudah seringkali menjadi konsumsi publik setiap harinya.

Ditambah dengan adanya pandemi covid-19 yang mengakibatkan angka pengangguran yang semakin tidak terkendali, kesejahteraan masyarakat yang tidak terjamin, dan budaya korupsi di ranah birokrasi.

Ditambah lagi pengelolaan sumber daya alam yang banyak diatur oleh pihak asing,
dan kurangnya apresiasi pemerintah terhadap prestasi bangsanya sendiri menjadi catatan
kelam jati diri Indonesia.


Mengutip dari laman Kompas, (11/8/2020), berdasarkan laporan dari Kementerian
Ketenagakerjaan per 7 April 2020, akibat pandemi Covid-19, tercatat sebanyak 39.977
perusahaan di sektor formal yang memilih merumahkan dan melakukan PHK terhadap
pekerjanya. Total ada 1.010.579 orang pekerja yang terkena dampak ini. Rinciannya, 873.090 pekerja dari 17.224 perusahaan dirumahkan, sedangkan 137.489 pekerja di PHK dari 22. 753 perusahaan.


Data diatas menunjukan penurunan kesejahteraan masyarakat yang terdampak
pandemi covid-19 cukup mengkhawatirkan, ditambah adanya peraturan pemerintah dalam
menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) yang mengakibatkan lesunya pertumbuhan pendapatan ekonomi bagi masyarakat kecil, ditambah realita korupsi bansos yang mencederai kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah

About admin

Check Also

Ranting NU Panjer Bersama Majelis Taklim se Kelurahan Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

Media NU – Kemeriahkan gelaran maulid di bulan rabiul awal 1444H di rasakan umat muslim …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *