Minggu , November 27 2022

Keberanian dan Kesabaran Seorang GUS DUR

Sudah sebelas tahun lebih Bangsa ini kehilangan sosok intelektual, ulama, dan tokoh Bangsa yang memiliki peranan besar memperjuangkan Bangsa ini semasa hidupnya baik pengabdiannya diorganisasi NU maupun saat menjabat sebagai Presiden kala itu. Ia sosok teladan yang memberikan pemahaman tentang berani dan sabar melawan kedzaliman dan fitnah, walaupun tidak dengan membawa massa ataupun keluarga.

Kita masih ingat kasus yang dialamatkan kepada Gus Dur saat menjadi Presiden yakni kasus Buloggate-Bruneigate, padahal sudah jelas kasus ini direkayasa secara politik oleh Akbar Tanjung, Bachtiar Chamsah, Surya Dharma Ali dan koboi senayan. Sedangkan rekayasa hukum diprakarsai oleh mantan Kapolri Rusydi Harjo. Selanjutnya, penggiring opini publik seolah Gus Dur bersalah dimotori oleh Andi Malarangeng, sehingga ujungnya bisa kita tebak, Gus Dur dijatuhkan dari Kursi RI 1. Apa reaksi Gus Dur? Kyai Nyentrik ini hanya bilang: “nanti sejarah yang akan membuktikan!” jangan membuat kekerasan!”.

Selang beberapa waktu, para penjegal Gus Dur itu pun terkena imbasnya. Satu-persatu mereka terkena kasus yang menjadikan pesakitan. Akbar Tanjung terseret sampai masuk penjara, menyusul Bahtiar Chamsah dipenjara karena tuduhan korupsi 32 M ketika menjabat sebagai Mensos. Uniknya jumlah 32 M sama persis sebagaimana dituduhkan Bahtiar Chamsah kepada Gus Dur.

Selanjutnya Rusdy Harjo menyusul masuk penjara terlibat kasus paspor ketika menjadi Dubes di Malaysia. Lalu disusul Andi Malarangeng dengan kasus Hambalang, tak lama diikuti Surya Dharma Ali masuk pesakitan pula saat menjabat sebagai Menag RI. Kesemua ini adalah peringatan akan tindak laku mereka sendiri kepada Gus Dur, tentu yang lain cepat atau lambat akan menyusul.

Bahkan Tokoh Nasional seperti Amien Rais yang ikut menjatuhkan Gus Dur, pada akhirnya marwahnya sebagai tokoh Bangsa dan Cendekiawan luntur juga. Gelar sebagai Tokoh Pejuang Reformasi mendadak seperti lampu padam. Manuver politiknya masuk melalui aksi bela Islam berjilid-jilid bersama PA 212 yang saat ini bak hilang ditelan bumi, menghadiri deklarasi KAMI, keluar dari Partai PAN yang dia dirikan hingga mendirikan kembali Partai bernama Umat.

Dari sepenggal alur cerita diatas dapat menjadi pelajaran berharga bagi seorang tokoh ataupun pejabat dalam menyikapi dan menghadapi masalah terutama dengan yang namanya hukum. Hukum tidak memandang penokohan apalagi nasab. Intervensi dari pihak manapun dilarang, seorang Presiden ataupun raja bahkan lainnya tetap tidak diperbolehkan.

Walhasil, mengutip dawuh Gus Dur: “Jangan ada kekerasan! karena tidak ada jabatan di dunia ini yang harus dipertahankan mati- matian,” Gampang bukan?! Gitu aja koq repot.

Sumber Foto :https://www.nu.or.id/

Penulis : Syahrial Ardiansyah
Ketua PW. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Bali

About admin

Check Also

Ranting NU Panjer Bersama Majelis Taklim se Kelurahan Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

Media NU – Kemeriahkan gelaran maulid di bulan rabiul awal 1444H di rasakan umat muslim …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *