Minggu , Desember 4 2022

Hari Lahir Pancasila : Ideologi Dan Dasar Negara

Hari ini bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila, bagi orang-orang yang mencintai Negaranya dengan semangat persatuan dan kebhinekaan itu luar biasa dan hebat. Berbeda bagi mereka yang masih tidak komitmen dan bahkan mencari cara agar merubah ideology Pancasila yang sudah final ini untuk diperdebatkan dan diusili, bahkan dicaci dengan statement-statement yang tidak jelas dikarenakan gagalnya pemahaman mengenai falsafah Pancasila yang sakti.

Pancasila sebagai ideologi dan dasar Negara adalah hasil formulasi pemikiran dari beberapa tokoh nasional dan agama dengan orientasi dapat membangun bangsa dan Negara yang didalamnya terdapat perbedaan suku, agama, ras, budaya, bahasa dan lain sebagainya. Diantara tokoh yang dikenal dalam perumusan Pancasila adalah tokoh Nahdlatul Ulama, yaitu KH. A. Wahid Hasyim putra dari pendiri Nahdlatul Ulama yang memiliki pemikiran Islam moderat dan kebangsaan.

Pancasila dilahirkan untuk menjadi pandangan hidup bangsa, ideologi negara serta dasar negara. Pada 17 Agustus 1964, Bung Karno dalam pidatonya mengambil judul “Tahun Vivere Pericoloso” (vivere pericolosamente) atau disingkat TAVIP yang antara lain mengungkapkan tiga paradigma besar yang bisa membangkitkan Indonesia menjadi bangsa yang besar baik secara politik maupun ekonomi. Konsep tersebut biasa disebut dengan sebutan Tri Sakti yang merupakan penjabaran dari Pancasila, yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara sosial budaya.

Pada masa orde baru di bawah Presiden Soeharto terus memaksakan agar asas tunggal Pancasila dalam berpartai dan organisasi sosial kemasyarakatan. Melalui pembicaraan yang intensif antara KHR. As’ad Syamsul Arifin dan juga KH Ahmad Siddiq dengan Presiden Soeharto bahwa Pancasila tidak akan menggeser agama dan agama tidak akan dipancasilakan, maka NU mau menerima Pancasila sebagai asas organisai, tanpa harus meninggalkan Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai dasar akidahnya.Eksistensi NU terhadap penerimaan asas tunggal Pancasila yang pada akhirnya diteguhkan dalam Muktamar NU ke-27 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo pada tahun1984.

Al Arif billah KHR. As’ad Syamsul Arifin menegaskan, behwa Indonesia tidak perlu menjadi negara Islam. Namun, kalau masyarakat menjalankan nilai-nilai syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka, hal ini menjadi idaman bagi setiap muslim. Karena itu, Pancasila bisa menjadi potret “Piagam Madinah” di zaman modern ini. Insyaallah akan ditiru oleh negara-negara lain. Kemudian beliau berdawuh bahwa Islam wajib menerima Pancasila, dan haram hukumnya bila menolak. Sila pertama itu selaras dengan doktrin tauhid, qul huwallahu ahad (Katakanlah bahwa Dia adalah Allah, (Tuhan) Yang Maha Esa.

Guruku KH. Afifudin Muhajir mengatakan Pancasila ini memang benar-benar sakti. Karena bisa menyatukan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis, golongan, agama, dan seterusnya, benar-benar sakti. Beliau menambahkan dengan adanya Pancasila umat Islam bisa menerima dengan ikhlas dan orang-orang sekuler juga bisa menerima Pancasila. Walaupun, pada awalnya kaum sekuler dan kaum Muslimin sempat berbeda pendapat, yang muslim menginginkan negara ini berdasarkan Islam, yang sekuler menginginkan negara ini berdasarkan sekularisme. Andai kata perdebatan itu tak selesai, barangkali sampai saat ini Indonesia belum lahir. Tapi Alhamdulillah bisa dipertemukan dengan Pancasila.

Dengan demikian, sebagai rakyat Indonesia yang mencintai Bangsa dan Negaranya tidak akan membuat onar dan berinisiatif untuk menggantikan dasar Negara bahkan menjadikan Indonesia Negara Agama yang selalu digelorakan oleh mereka yang berpikiran Islam radikal atau Islam transnasional. Maka KH. Muslim Rifa’I Imampuro yang bersahaja dipanggil Mbah Liem dalam setiap acara apapun setelah NU menerima Asas Pancasila sebagai dasar membangun Negara terus mengatakan dan mendoakan agar NKRI, Pancasila, Aman, Makmur, Damai, HARGA MATI, NKRI Harga Mati yang akhirnya menjadi slogan atau jargon NU, tapi juga dipakai oleh TNI.

Selamat Hari Lahir Pancasila

Penulis : Syahrial Ardiansyah, SHI, MH. Ketua PW ISNU Prov. Bali.

About admin

Check Also

Pelantikan Pengurus Ranting NU Pemecutan Kaja

Media NU – Sabtu (05/11/2022) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Denpasar melantik pengurus ranting …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *